Tuesday, January 26, 2016

Sejarah Yang Digelapkan, Teuku Markam dan Revolusi

Tulisan ini untuk mengingatkan kita tentang persaudaraan dan perdamaian, jangan selalu terprovokasi dan berujung penistaan sesama manusia. Mengenang kembali tentang peran Aceh terhadap revolusi kemerdekaan Indonesia yang digelapkan (Dunia Tanpa Ingatan). Tentu sudah tidak asing lagi jika kita mendengar tentang siapakah T. Markam sebenarnya  serta jasa apa yang telah membawa namanya ke dalam ranah pembahasan orang ramai saat ini. Teuku Markam selaku saudagar Aceh yang berperan andil dalam pergerakan revolusi kerap menjadi buah bibir oleh setiap kalangan masyarakat, baik secara umum ataupun kalangan warga Aceh sendiri. Melihat sepak terjang beliau sebagai pembisnis ulung dari awal sampai beliau meninggal, setiap cerita yang melingkupi peran beliau sangat bervariasi. Tapi ada hal menarik dari seorang Markam dalam berjuang melawan penindasan atas dasar sosialisme yang tinggi untuk revolusi kemerdekaan Indonesia. Sedikit cerita tentang kehidupan beliau disini bahwa T.Markam lahir pada tahun 1925 di Seuneudon, alue capli panton labu Aceh Utara.  Tapi kita tidak membahas secara mendalam keadaan beliau semasa kecil. Langsung saja kita membahas tentang bagaimana perjuangan beliau bersama pejuang-pejuang lainnya dalam  melawan penjajahan dan penindasan yang dilakukan oleh Belanda terhadap manusia di bumi Nusantara. Teuku Markam atau T. Markam adalah seorang pejuang/revolusioner bawah tanah (istilah Syahrir untuk pejuang bayangan), beliau mendukung penuh untuk kemerdekaan/pembebasan jutaan manusia dibawah penindasan penjajahan. Oleh karena itu beliau tidak terlalu terkenal seperti pejuang lainnya yang masuk ke dalam medan perang berdarah dan berteriak "MERDEKA ATAU MATI" dengan menggenggam sebatang bambu runcing. Tapi beliau juga pernah ikut ke dalam pertempuran di Tembung, Sumatra Utara bersama-sama dengan Jendral Bejo, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin dll. Sebuah kisah yang terlupakan atau mungkin digelapkan oleh sebuah kekuasaan absolut pada masa orde baru seperti halnya sejarah tentang Tan Malaka seorang pejuang revolusioner asal Sumatra Barat ini. Kembali lagi pada cerita T. Markam, dewasa ini beliau dikenal sebagai penyumbang bagi perjuangan revolusi, kita bisa temukan dari berbagai artikel resmi/non-resmi dan bukti sejarahnya.   Beliau andil dalam peran mengelola hasil rampasan perang pada era Soekarno dan juga memiliki kedekatan dengan Panglima Tertinggi Revolusi Presiden Soekarno atau dengan nama akrabnya adalah bung Karno. Perjuangan beliau didukung penuh oleh bung Karno untuk membantu perjuangan revolusi Indonesia, dengan kata lain beliau salah satu tokoh perjuangan yang hilang setelah pengkudetaan terjadi terhadap Presiden Soekarno pada tanggal 20 Februari 1967. Sumbangsih perjuangan beliau seperti halnya kapas yang dibakar, seperti halnya tragedi '65 sebuah tuduhan kepada PKI tanpa bukti konkret yang jelas oleh militer yang ditunggangi oleh Soeharto pada masa itu. Seorang pejuang revolusi kemerdekaan itu kemudian dipenjarakan karena disebut dengan Soekarnois (Pendukung Soekarno). Orde baru berkuasa dan semua aset yang dimiliki oleh T. Markam pun diambil alih pemerintah demi mendukung kekuatan politiknya yaitu dengan bersemayamnya pemahaman "PEMBANGUNAN" bagi rakyat Indonesia seolah rezim orbalah murni menegakan pembangunan. Singkat cerita hubungan antara T. Markam dan Bung Karno adalah kerabat seperjuangan yang sama-sama dihancurkan oleh pemerintahan orba. Banyak yang mengatakan bahwa Soekarno mengkhianati Aceh tapi kita bisa mengambil kesimpulan sebenarnya apa yang telah terjadi. Sebelum janji itu terealisasikan kepada rakyat Aceh. Soekarno pun tiada daya dalam kekuasaan. Keinginan Aceh untuk mendapat otonom khusus pada masa itu tidak menjadi perhatian khusus pemerintah orba yang telah mengambil alih kekuasaan, bahkan beberapa daerah Nusantara dijual (istilah politik) seperti Exxon, Freeport dsb demi penunjang langgengnya kekuasaan orba. Dari kisah diatas, kita bisa menyimpulkan sisa-sisa penggelapan sejarah yang dilakukan orba dan semua kalangan khususnya sejarawan sudah mengetahui hal ini. Kita tidak perlu terprovokasi dan melakukan perlawanan fisik bagi sebuah kedzaliman. Perlunya kesadaran sejarah yang disembunyikan dan menjadi manusia yang sosialis berguna bagi sesama untuk menunjang kesejahteraan manusia banyak khususnya rakyat Aceh. Perjuangan kita terhadap makmurnya tanah rencong ini bukan hanya sebatas sebuah kemerdekaan berbentuk fisik duniawi, pada hakikatnya kemerdekaan sesungguhnya adalah kita sebagai manusia bebas perlu ambil andil dalam perjuangan yang tidak merugikan orang lain dan tentu saja berguna bagi sesama. Tingkatkan aspek EK/KE/PE (EGP) menurut saya, penekanan/memanfaatkan otsus bagi Ekonomi, Kesehatan dan Pendidikan di Aceh sendiri. Serta intropeksi diri untuk mengenal perbedaan yang justru ditekankan dalam Firman Allah SWT untuk menjadi manusia yang saling mengenal/bersatu untuk membangun bersama dalam nilai iman ataupun tujuan daripada kebaikan untuk sesama. #Salam Revolusi !!!

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home