Sejarah Yang Digelapkan, Teuku Markam dan Revolusi
Tulisan ini untuk mengingatkan
kita tentang persaudaraan dan perdamaian, jangan selalu terprovokasi dan
berujung penistaan sesama manusia. Mengenang kembali tentang peran Aceh
terhadap revolusi kemerdekaan Indonesia yang digelapkan (Dunia Tanpa Ingatan).
Tentu sudah tidak asing lagi jika kita mendengar tentang siapakah T. Markam
sebenarnya serta jasa apa yang telah
membawa namanya ke dalam ranah pembahasan orang ramai saat ini. Teuku Markam
selaku saudagar Aceh yang berperan andil dalam pergerakan revolusi kerap
menjadi buah bibir oleh setiap kalangan masyarakat, baik secara umum ataupun
kalangan warga Aceh sendiri. Melihat sepak terjang beliau sebagai pembisnis
ulung dari awal sampai beliau meninggal, setiap cerita yang melingkupi peran
beliau sangat bervariasi. Tapi ada hal menarik dari seorang Markam dalam
berjuang melawan penindasan atas dasar sosialisme yang tinggi untuk revolusi
kemerdekaan Indonesia. Sedikit cerita tentang kehidupan beliau disini bahwa
T.Markam lahir pada tahun 1925 di Seuneudon, alue capli panton labu Aceh
Utara. Tapi kita tidak membahas secara
mendalam keadaan beliau semasa kecil. Langsung saja kita membahas tentang
bagaimana perjuangan beliau bersama pejuang-pejuang lainnya dalam melawan penjajahan dan penindasan yang
dilakukan oleh Belanda terhadap manusia di bumi Nusantara. Teuku Markam atau T.
Markam adalah seorang pejuang/revolusioner bawah tanah (istilah Syahrir untuk
pejuang bayangan), beliau mendukung penuh untuk kemerdekaan/pembebasan jutaan
manusia dibawah penindasan penjajahan. Oleh karena itu beliau tidak terlalu
terkenal seperti pejuang lainnya yang masuk ke dalam medan perang berdarah dan
berteriak "MERDEKA ATAU MATI" dengan menggenggam sebatang bambu
runcing. Tapi beliau juga pernah ikut ke dalam pertempuran di Tembung, Sumatra
Utara bersama-sama dengan Jendral Bejo, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin
dll. Sebuah kisah yang terlupakan atau mungkin digelapkan oleh sebuah kekuasaan
absolut pada masa orde baru seperti halnya sejarah tentang Tan Malaka seorang
pejuang revolusioner asal Sumatra Barat ini. Kembali lagi pada cerita T.
Markam, dewasa ini beliau dikenal sebagai penyumbang bagi perjuangan revolusi,
kita bisa temukan dari berbagai artikel resmi/non-resmi dan bukti
sejarahnya. Beliau andil dalam peran
mengelola hasil rampasan perang pada era Soekarno dan juga memiliki kedekatan
dengan Panglima Tertinggi Revolusi Presiden Soekarno atau dengan nama akrabnya
adalah bung Karno. Perjuangan beliau didukung penuh oleh bung Karno untuk
membantu perjuangan revolusi Indonesia, dengan kata lain beliau salah satu
tokoh perjuangan yang hilang setelah pengkudetaan terjadi terhadap Presiden
Soekarno pada tanggal 20 Februari 1967. Sumbangsih perjuangan beliau seperti
halnya kapas yang dibakar, seperti halnya tragedi '65 sebuah tuduhan kepada PKI
tanpa bukti konkret yang jelas oleh militer yang ditunggangi oleh Soeharto pada
masa itu. Seorang pejuang revolusi kemerdekaan itu kemudian dipenjarakan karena
disebut dengan Soekarnois (Pendukung Soekarno). Orde baru berkuasa dan semua aset
yang dimiliki oleh T. Markam pun diambil alih pemerintah demi mendukung
kekuatan politiknya yaitu dengan bersemayamnya pemahaman
"PEMBANGUNAN" bagi rakyat Indonesia seolah rezim orbalah murni
menegakan pembangunan. Singkat cerita hubungan antara T. Markam dan Bung Karno
adalah kerabat seperjuangan yang sama-sama dihancurkan oleh pemerintahan orba.
Banyak yang mengatakan bahwa Soekarno mengkhianati Aceh tapi kita bisa
mengambil kesimpulan sebenarnya apa yang telah terjadi. Sebelum janji itu
terealisasikan kepada rakyat Aceh. Soekarno pun tiada daya dalam kekuasaan.
Keinginan Aceh untuk mendapat otonom khusus pada masa itu tidak menjadi
perhatian khusus pemerintah orba yang telah mengambil alih kekuasaan, bahkan
beberapa daerah Nusantara dijual (istilah politik) seperti Exxon, Freeport dsb
demi penunjang langgengnya kekuasaan orba. Dari kisah diatas, kita bisa
menyimpulkan sisa-sisa penggelapan sejarah yang dilakukan orba dan semua
kalangan khususnya sejarawan sudah mengetahui hal ini. Kita tidak perlu terprovokasi
dan melakukan perlawanan fisik bagi sebuah kedzaliman. Perlunya kesadaran
sejarah yang disembunyikan dan menjadi manusia yang sosialis berguna bagi
sesama untuk menunjang kesejahteraan manusia banyak khususnya rakyat Aceh.
Perjuangan kita terhadap makmurnya tanah rencong ini bukan hanya sebatas sebuah
kemerdekaan berbentuk fisik duniawi, pada hakikatnya kemerdekaan sesungguhnya
adalah kita sebagai manusia bebas perlu ambil andil dalam perjuangan yang tidak
merugikan orang lain dan tentu saja berguna bagi sesama. Tingkatkan aspek
EK/KE/PE (EGP) menurut saya, penekanan/memanfaatkan otsus bagi Ekonomi,
Kesehatan dan Pendidikan di Aceh sendiri. Serta intropeksi diri untuk mengenal
perbedaan yang justru ditekankan dalam Firman Allah SWT untuk menjadi manusia
yang saling mengenal/bersatu untuk membangun bersama dalam nilai iman ataupun
tujuan daripada kebaikan untuk sesama. #Salam Revolusi !!!
