Edo, Episode Pertama
Di tengah keramaian kota yang
disebut “Hanna”, dalam bahasa Jepang berarti Bunga. Terdapat sebuah gubuk kecil
diantara celah pertokoan, hiduplah seorang wanita miskin yang hanya bekerja
memungut sampah tapi disanalah ia hidup dengan perut membuncit. Pada suatu hari
lahirlah seorang anak daripadanya yang kemudian diberi nama “Edo”. Akan tetapi
ketika Edo dilahirkan, wanita miskin sebagai ibunya itu menghembuskan nafas
terakhir di antara beberapa orang yang membantunya dan disertakan jerit tangis
dari seorang Edo kecil.
Edo kemudian dibawa oleh orang
yang mengasihinya ke sebuah perkebunan kecil yang letaknya tidak jauh dari kota,
terpisah dengan sungai dan Edo kecil
memanggilnya Paman. Disana Edo hidup dengan sederhana, hanya berupa kebun sayur
dan peternakan kecil yang diurus oleh Pamannya, Edo kecil sangat terbiasa
dengan suasana itu. Karena dia bisa bermain dengan ternak pamannya dan bahkan
membantu pamannya untuk menyiram sayuran dan membersihkan kuda di kebun.
Suatu hari Edo berjalan mengitari
kebun dan kemudian dia melihat di ujung timur, terlihat gedung-gedung tinggi.
Edo kecil berlari kerumah dan bertanya kepada paman, “Paman, apa yang ada
disana ? aku melihatnya begitu tinggi dan besar”, jawab pamannya “itu adalah
kota, kau tak pernah kesana, tapi paman akan mengajakmu kesana suatu hari nanti”.
Edo kecil hanya membayangkan tentang kota dan ada orang-orang yang besar pula
yang berdiri di dalam kota itu.
Bell berbunyi dan sekarang pukul
07:00, kemudian Edo bergegas mandi serta merapikan diri. Selepas itu dia pun
pergi menemui dan meminta pamannya untuk mengajaknya pergi ke kota pada saat
itu juga. Pamannya berkata “wah, kenapa tiba-tiba sekali, dan ini masih pagi,
ada apa denganmu ?” Edo kecil menjawab dengan rasa ingin tahu, “Paman, semalam
aku bermimpi di kota itu ada seorang wanita yang memanggilku untuk
mengunjunginya, aku ingin kesana sekarang”. Pamannya merasa bingung dan
memaklumi apa yang difikirkan oleh Edo kecil. Kemudian pamannya pun bergegas
menyiapkan diri untuk membawa Edo kecil ke kota. Bersambung.....
Dengan dua ekor kuda yang
dimiliki paman menarik kereta sederhana mereka melewati padang ilalang dan
perpohonan menuju kota yang ingin dilihat Edo pada hari minggu itu. Suara
gemuruh daripada pabrik-pabrik yang berada dipinggir perkotaan menemani
perjalanan mereka. Sesampai mereka disana, tampak riang si Edo kecil dengan
bertanya kepada paman, “Akan kemana kita ini paman?”, paman menjawab, “Kita
akan menuju alun-alun kota untuk melihat keramaian, tapi kita harus membawa
kuda ini ke tempat teman paman dulu untuk dititipkan.” Pergilah mereka untuk
menitipkan kuda-kuda beserta kereta sederhana itu ke sebuah toko tua yang
dulunya pernah disinggahi oleh paman Edo.
Si paman tampak sedih karena
mengenang hal yang pernah terjadi di sebelah toko tua itu dimana sebuah gubuk
kecil berdiri dan terlahirnya seorang anak yang ditinggal mati oleh ibunya. Tanpa
membuang waktu lama, paman menitipkan kereta kudanya kepada seorang teman yang
memiliki toko tersebut, kepada seorang pria yang pernah menyaksikan kelahiran
seorang anak dan berkatalah dia kepada pamannya Edo, “Akankah kau mengatakan
sesuatu kepada anak itu tentang kisahnya disini?”, “tidak, aku hanya menitipkan
keretaku disini dan membawanya bermain di alun-alun kota”, jawab paman.
Setelah itu Edo dan pamannya
beranjak menuju alun-alun dan melihat keramaian yang tak pernah dilihat oleh
Edo kecil di desa, dimana dia selalu melihat burung-burung dan hewan-hewan
berkeliaran di sekitar perkebunan kecil milik pamannya.
Edo merasa bahagia, disana dia
dapat bermain layaknya anak kota, melihat komedi putar dan permainan anak-anak
yang dapat disewa orang tua anak-anak yang mengunjunginya. Edo kecil tak ingin
pamannya menyewakan salah satu wahana permainan karena dia tahu bahwa pamannya
tidak memiliki uang, maka Edo hanya berkililing sembari melihat keramaian yang
ada itu sudah membuatnya bahagia.
