Tuesday, September 30, 2014

Puisi : Sebuah Ketenangan di dalam Merah, Goresan pena M Ridho Afriza

Sebuah ketenangan di dalam merah
Sebuah keceriaan anak-anak tak berdosa
Langkah kaki, senyuman dan daun senantiasa berjatuhan
Terdengar merdu dendangnya dari kejauhan

Tanpa sadar mega tak lagi cerah
Jeritan melayang melucuti anak panah
Tangan, kaki dan hati tersimpan
Seolah tiada daya untuk melawan

Bayonet-bayonet terlihat gagah
Hendak mencabik tubuh penuh darah
Lubang buatan atas kegelisahan
Air mata pun menjadi picisan

Sebuah ketenangan di dalam merah
Sebuah keceriaan anak-anak tanpa marah
Jiwa hanya sekedar sampah bertaburan
Menjadi lukisan dari sebuah kenangan

Monday, September 22, 2014

Syair : Bunga Tak Berduri , M Ridho Afriza

Seperti mesin waktu
Langkahku menuju masa lalu
Dan berakhir di suatu tempat
Aku menatapi bunga-bunga yang gugur
Tak terarah menuju semak berduri
Mungkinkah ia bertahan
Sedang duri mencabik kelopak bunga yang begitu indah

Terdengar nyanyian dari masa yang silam
Seolah hendak menghampirinya
Bungaku indah tak berduri
Ia bertahan laksana pinus di musim dingin
Kakiku gemetar untuk meratapi
Wahai bunga tak bertuan
Elok kah ku bawa engkau pulang

Sepenggal Cerita Seorang Gadis Perawan Sederhana

Orang tuanya membanting tulang demi ia seorang anak bersekolah, dan mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya. Dia seorang anak gadis perawan nan elok, bersabar atas usahanya demi cita mulia untuk membalas budi kepada ibu bapanya. Tapi sekarang ia terlihat hebat, dengan mengenakan toga dan berkata di dalam lubuk hati untuk mereka yang setia menjadi orang tuanya " Bu, Pak, Terimakasih, tanpa kalian saya mungkin tak bisa begini, tapi dengan kalian anak ini telah tumbuh besar dan menemui langkah menuju masa depan yang lebih baik, terimakasih " ... Air mata syukur berlinang, meski tak seorangpun mengira bahwa ia menjadi sarjana hebat yang berasal dari latar belakang yang kurang beruntung, tapi itu tak mengurangi semangatnya demi cita mulia yang ia janjikan untuk keluarga tercintanya.